0
Laporan 
Evidance Based Practice EBP
Profesi KGD


TERAPI OKSIGEN TERHADAP PERUBAHAN SATURASI OKSIGEN MELALUI PEMERIKSAAN OKSIMETRI PADA PASIEN INFARK MIOKARD AKUT (IMA)


A. PENDAHULUAN
Saturasi oksigen adalah kemampuan hemoglobin mengikat oksigen. Ditujukan sebagai derajat kejenuhan atau saturasi (SpO2) (Rupii, 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi saturasi oksigen adalah: jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi), kecepatan difusi, dan kapasitas hemoglobin dalam membawa oksigen (Potter & Perry, 2006). Untuk meningkatkan jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru dapat dilakukan dengan tindakan terapi oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis terapi oksigen terhadap perubahan nilai saturasi terapi oksigen terhadap perubahan saturasi oksigen melalui pemeriksaan oksimetri pada pasien infark miokard akut (IMA).

B. ANALISIS JURNAL
Budi dan Yamin melakukan penelitian tentang terapi oksigen terhadap perubahan saturasi oksigen melalui pemeriksaan oksimetri pada pasien infark miokard akut (IMA). Penelitian menggunakan rancangan penelitian pra-eksperiment dengan one group pra testpost test design, dimana pengamatan atau observasi dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah dilakukan intervensi dengan mengambil 38 responden. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 38 responden yang mendapatkan terapi oksigen didapatkan sebanyak 32 (84,2 %). Meningkatnya volume oksigen dalam hal ini FiO2 yang masuk kedalam paru-paru maka secara tidak langsung juga menambah kapasitas difusi paru dan meningkatkan tekanan parsial O2 (PO2) akan semakin banyak oksigen yang dapat diikat oleh hemoglobin untuk dihantarkan ke jaringan diseluruh tubuh sehingga dapat mengembalikan saturasi oksegen ke nilai normal. Responden yang mengalami peningkatan saturasi oksigen dari hipoksia ringan menjadi normal dan sebanyak 6 (15,8 %) responden tetap pada hipoksia ringan. Penelitian terkait dilakukan oleh Nugrahaning (2013), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa waktu penurunan skala nyeri dada pada tiap kelompok memiliki perbedaan yang cukup signifikan.
C. PEMBAHASAN
Saturasi oksigen adalah kemampuan hemoglobin mengikat oksigen. Ditujukan sebagai derajat kejenuhan atau saturasi (SpO2) (Rupii, 2005). Faktor-faktor yang mempengaruhi saturasi oksigen adalah: jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi), kecepatan difusi, dan kapasitas hemoglobin dalam membawa oksigen (Potter & Perry, 2006). Untuk meningkatkan jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru dapat dilakukan dengan tindakan terapi oksigen. Berdasarkan hasil penelitian di ruang IRD RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang dilakukan terhadap 38 responden sebelum diberikan terapi oksigen didapatkan nilai saturasi oksigen semua responden yaitu sebanyak 38 (100 %) mengalami hipoksia ringan. Terjadinya hipoksia ringan pada pasien infark miokard dapat disebabkan karena terjadinya proses arterosklerosis pembuluh darah koroner yang mengakibatkan lumen pembuluh darah mengalami penyumbatan sehingga otot miokard kekurangan suplai oksigen yang menyebabkan kerusakan atau kematian jaringan miokard, tetapi pada sebagian otot miokard yang belum mengalami kerusakan atau kematian masih mampu mempertahankan fungsi pompa jantung untuk menyuplai darah keseluruh tubuh sehingga kebutuhan oksigen jaringan masih dapat dipertahankan. Saturasi oksigen sesudah pemberian terapi oksigen binasal kanul pada pasien infark miokard akut, dari hasil penelitian ini diketahui bahwa dari 38 responden yang mendapatkan terapi oksigen didapatkan sebanyak 32 (84,2 %). Meningkatnya volume oksigen dalam hal ini FiO2 yang masuk kedalam paru-paru maka secara tidak langsung juga menambah kapasitas difusi paru dan meningkatkan tekanan parsial O2 (PO2) akan semakin banyak oksigen yang dapat diikat oleh hemoglobin untuk dihantarkan ke jaringan diseluruh tubuh sehingga dapat mengembalikan saturasi oksegen ke nilai normal.  Responden yang mengalami peningkatan saturasi oksigen dari hipoksia ringan menjadi normal dan sebanyak 6 (15,8 %) responden tetap pada hipoksia ringan. Penelitian terkait dilakukan oleh Nugrahaning (2013), hasil penelitiannya menunjukkan bahwa waktu penurunan skala nyeri dada pada tiap kelompok memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Pada kelompok I (oksigen 4 liter per menit), rentang waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan skala nyeri dada yaitu antara 10 sampai 15 menit. Pada kelompok II (oksigen 5 liter per menit), rentang waktunya antara 6 sampai 10 menit dan pada kelompok III (oksigen 6 liter per menit) rentang waktunya antara 5 sampai 9 menit. Disimpulkan bahwa dosis oksigen 6 liter per menit memiliki pengaruh yang paling cepat untuk menurunkan skala nyeri dada diantara dua kelompok yang lain. Dan diikuti dengan naiknya saturasi oksigen 5-10 %.  Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Hudak & Gallo (2010) disebutkan bahwa meningkatkan FiO2 (presentase oksigen yang diberikan) merupakan metode mudah dan cepat untuk mencegah terjadinya hipoksia jaringan, dimana dengan meningkatkan FiO2 maka juga akan meningkatkan PO2 yang merupakan faktor yang sangat menentukan saturasi oksigen, dimana pada PO2 tinggi hemoglobin membawa lebih banyak oksigen dan pada PO2 rendah hemoglobin membawa sedikit oksigen. Sistem transportasi oksigen terdiri dari sistem paru dan kardiovaskuler. Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi oksigen secara umum harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga target pemenuhan saturasi oksigen tercapai.

D. KESIMPULAN
Pemberian terapi oksigen dapat mempengaruhi terhadap perubahan saturasi oksigen, namun pemberian terapi oksigen secara umum harus memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi sehingga target pemenuhan saturasi oksigen tercapai. Berdasarkan hasil penelitian diketahui dari 38 responden sebelum diberikan terapi oksigen binasal kanul, didapatkan semua responden yaitu sebanyak 38 (100%) mengalami hipoksia ringan dengan nilai SaO2 90 - < 95%. Sebagian besar responden mengalami peningkatan saturasi oksigen kembali normal (SaO2 95 – 100%) setelah diberikan terapi oksigen binasal kanul yaitu sebanyak 32 (84.2 %) responden dan sebanyak 6 (15.8 %) responden tetap dengan hipoksia ringan (SaO2 90 - < 95%).

REFERENSI

Alimul. H, (2003). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta:Salemba
Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta.  
Astowo. Pudjo. (2005). Terapi Oksigen: Ilmu Penyakit Paru. Bagian Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi. FKUI Jakarta.

Untuk Download Jurnal dan File Lengkap nya silahkan klik link di bawah :


Posting Komentar

 
Top